Kancing Yang Terlepas (Blogdrive: August 11, 2004)

Seperti yang gw tulis sebelumnya, gw mendapatkan "cuci otak" atau wejangan dari Bokap sejak gw masih kecil sampe sekarang. Pada saat gw merasa menjadi seseorang yang diabaikan di pergaulan sekolah. Gw merasa kesepian dan kosong. Pada saat mengadu ke ortu, Bokap bilang: "Miko, hidup kita adalah secarik kain putih kosong. Banyak sekali cat pewarna di sekeliling kamu. Kamu harus bisa membuatnya menjadi berwarna. Hanya kamu sendiri yang bisa membuat warna-warni itu tampak harmonis atau justru menjadi carut marut." Pesan yang amat berat untuk kemampuan berpikir abstract seorang abege. Gw sekarang tumbuh menjadi orang yang cenderung pemilih dalam menjalin sebuah hubungan.

Ketika gw punya seorang sahabat baik dan ada ketergantungan secara emosional, gw kudu berpisah dengan dia. Gw sedih dan sangat kehilangan, dan sekali lagi Bokap mengingatkan gw: "Miko, jangan pernah sekalipun kamu tergantung pada seseorang. Apapun itu bentuknya. Pada dasarnya kita hidup sendirian. Kita hidup hanya untuk diri kita sendiri. Kehadiran orang lain adalah pelengkap semata. Ibarat pakaian dengan bebagai macam aksesori dan kancing, suatu saat kancing itu akan copot dan hilang karena memang sudah satnya untuk kancing itu terlepas. Ada saatnya pula suatu aksesoris itu justru membuat pakaian menjadi tampak norak dan tidak pantas dikenakan, kamu bisa melepaskan aksesoris tanpa menjadi kehilangan rasa percaya diri." Nasehat Bokap membuat gw bisa merelakan kepergian sahabat gw. Gw tumbuh menjadi individu yang solitaire dan terkesan acuh dalam sebuah hubungan

Gw masih ingat juga waktu SMA ketika gw terkena masalah besar dan sangat memalukan hingga gw committed to suicide (yang syukurnya gagal), kembali lagi Bokap memberi wejangan: "Miko, kamu harus berani menghadapi dunia dan menunjukkannya bahwa kamu adalah orang yang berani. Kalau tidak, kamu hanya akan menjadi bulan-bulanan serigala-serigala di luar sana. Apapun kamu. Sejelek-jeleknya kamu, kamu tetap darah daging Bapak. Kamu tetap anak Bapak. Dan Bapak bangga karena kamu menjadi anak Bapak."  Wejangan yang gw pegang dengan kuat di hati gw. Gw tumbuh menjadi seseorang yang membungkus diri yang rapuh dengan kemasan sekuat baja dan menjaga self-image agar dapat tetap membuat ortu gw bangga terhadap gw.

Terlepas dari semua wejangan-wejangan Bokap yang sekarang membentuk pribadi gw, saat ini gw  menghadapi waktu yang sulit dan situasi yang tidak dapat diprediksikan. Dalam waktu dekat gw harus siap untuk melepaskan seseorang yang sangat berarti dalam hidup gw. Ketidakrelaan, ketakutan, kepedihan, dan semua perasaan bercampur baur. Tapi itu adalah kenyataan yang harus gw terima. Sepahit apapun.

Sebuah kancing siap untuk terlepas………………

4 Responses to “Kancing Yang Terlepas (Blogdrive: August 11, 2004)”

  1. Jeff Says:

    Miko.
    Kamu beruntung punya bokap seperti beliau. Soal kancing yg lepas, rasanya aku sering merasa takut kalau aku benar benar melupakan kancing yang pernah aku punya. Kita memang akan merelakan apa yg seharusnya telah lepas, tapi apakah kita rela untuk melupakan kancing itu? Karena yg kita pernah miliki harta yg berharga, bukan kancing semata.

  2. Rinto Says:

    Orang padang menyebut kancing sebagai “kanciang”.
    Kanciang juga berarti kencing atau air seni/pipis. Sehingga kalau misuh-misuh orang padang juga akan bilang “kanciang”.
    Ketika sebuah kancing akan terlepas, mungkin berteriak keras dengan menyebut “kancing!”, siapa tau bisa bikin lega. Eh, bokap mu gak ngajarin misuh2 ya? hehehe… maaf :)

  3. Rani Says:

    Speak about kancing, just remember that it’s all worth the husstle. No life is perfect if you don’t experiance trouble. Wether you like it or not, that’s part of the journey. As for you, it must be color full ;)

  4. Anton Says:

    hmmm, gak ngerti gue mik… dasar telmi gue ya, perlu asistensi nehh

Leave a Reply