JAKARTA = BIG PINEAPPLE (Blogdrive: August 3, 2004)
New York punya julukan big apple. Kalo Jakarta mungkin lebih cocok dijuluki big pineapple. Wangi n mengundang selera. Tapi kalo kita gak hati-hati untuk mencicipi sedapnya nanas raksasa ini, bisa-bisa ketusuk durinya or gatal tenggorokan. Terkesan manis tapi sering kali si nanas raksasa justru punya rasa asem yang memecut mulut hingga bibir manyun mengerucut.
Gw tergolong new comer di Jakarta ini. Meskipun dulu sempat bersumpah gak bakalan mau tinggal dan kerja di Jakarta, akhirnya gw kudu menjilat air ludah gw sendiri. Kenyataan bahwa lebih dari 70% peredaran uang berada di Jakarta, memikat gw untuk meninggalkan nikmatnya kesederhanaan kota Jogja. Menjaring kepeng-kepeng untuk bertahan dalam hidup (tentunya dengan standar yang jauh lebih tinggi dari sekedar makan malam di angkringan).
Gw masih ingat, di awal 2003 di Jogja, dengan uang 5000 perak gw bisa makan kenyang. 3 kali sehari! CATAT: 3 KALI SEHARI. Nominal yang ngepas banget untuk bisa makan seadanya plus aer haus di warteg pinggiran got Jakarta untuk sekali makan. CATAT: SEKALI MAKAN. Selama di Jogja gw gak terlalu peduli dengan segala macam asesori penunjang penampilan yang representative. Sekarang mau gak mau gw kudu rela belanja ini itu untuk menjaga penampilan fisik yang representative karena tuntutan kerjaan gw. Dulu gw masih bisa jalan-jalan di mal dengan sendal jepit n jeans lusuh. Sekarang gw pasti bakal dikuntit satpam mal kalo masih nekat berpenampilan seperti itu n dikirain tukang kutil barang.
Setuju atau tidak, film Arisan! betul-betul potret yang ngejepret komedi kehidupan Jakarta dengan pas. Pertemanan palsu, hedonisme, dan segambreng topeng yang kudu siap dipake setiap saat dibutuhkan. Untungnya saat ini gw punya teman-teman baik yang baik dalam arti sebenarnya (jauh dari gambaran pertemanan ala film Arisan! Walau kadang-kadang kita suka juga ngumpul di fancy restaurant/cafe ala ibu-ibu arisan. hehehehehe). Gw punya tempat untuk berbagi suka dan duka.
Tapi apakah dibenarkan jika kita bergantung pada teman? Sekalipun kepada teman baik? Bokap selalu mengajarkan ke bahwa pada dasarnya kita hidup di dunia ini adalah sendirian. Orang lain hanyalah sebuah aksesori yang memberi warna dan nuansa. Suatu saat aksesori itu akan lenyap karena hilang maupun ditanggalkan. Kejam? Mungkin itu kesan awal yang tertangkap, tapi gw udah bisa mengerti dan paham banget bahwa apa yang diajarkan Bokap, benar adanya.
Secara nominal, apa yang gw dapat saat ini, Alhamdulillah, cukup besar dibandingkan apa yang gw dapat sebelumnya di daerah. Tanpa bermaksud kufur, gw juga merasa bahwa tuntutan dan kebutuhan gw bertambah besar. Gw kudu rela menghabiskan lebih dari 60 jam seminggu untuk pekerjaan. Gw menjadi lebih solitaire dan individualis di kota Jakarta. Sisi manusiawi gw kadang menjerit dan minta pertanggungjawaban mengenai apa yang sebenarnya gw cari. Memang sih…segala sesuatu pasti ada yang harus dikorbankan. Tapi apakah pengorbanan ini cukup berarti demi sekepeng dua kepeng? Apakah Jakarta cuma sebagai tempat untuk melarikan diri dari tanggung jawab yang sebenarnya menungu di kampung? Gw gak tau. Atau tepatnya, belom tau jawabannya.
Mungkin gw kudu bertanya pada rumput-rumput yang bergoyang…..
June 20th, 2006 at 7:58 pm
ihhh cute. so inspiring…