Cabe Rawit (Blogdrive: June 25, 2004)
Banyak orang yang mnganalogikan cinta dengan hal lain. Ada yang bilang cinta itu ibarat kupu-kupu. Ada juga yang bilang cinta itu seperti musim semi. Kalo gw bilang, cinta itu seperti cabe rawit (ini adalah pemahaman gue tentang cinta beberapa bulan yang lalu…waktu gw lagi gundah gulana kata si yuk Nah).
Cinta itu seperti cabe rawit, yang bikin makanan jadi makin nikmat dikunyah dan pengen nambah . Tapi ada kalanya juga gara-gara cabe rawit, perut kita jadi mules dan berak-berak. Akibatnya, untuk sementara waktu kapok makan cabe rawit.
Seperti halnya dengan gw yang pengen merasakan cinta. Cinta yang putih. Terlalu tinggikah harapan gw? Pernah ada seorang sahabat bilang ke gw: "Bangun, bego! Jangan pernah jadi pungguk yang merindukan bulan. Hari gini mengharapkan cinta putih. Di Jakarta pula. Orang-orang hanya ingin bersukaria, dan di saat lo mabuk olehnya dia akan meninggalkan kamu untuk menangis darah sambil menggaruk-garuk aspal!!
Najis!!!! Begitu rendahnya kah nilai dari sebuah cinta?? Cinta yang tidak lebih dari sekedar perkelaminan belaka.
Ada pula seorang sahabat berkata: " Gw gak butuh cinta. Gw udah biasa untuk hidup sendiri dan berteman sepi. Dan gw lebih nyaman karenanya."
Sebuah ego defense yang bagus. Tapi dalam hati gw bilang: "Kasian deh lo!"
Gw ngerti dan sadar seratus persen bahwa hidup ini penuh dengan pilihan. Gw juga tahu bahwa setiap orang berhak untuk memilih yang terbaik buat hidupnya karena cuma dia yang tahu tentang hidupnya. Oleh karena itu gw akan memilih bentuk cinta yang gw mau.
cabe rawit…..oh…..cabe rawit……….mules deh gw……….
June 20th, 2006 at 8:11 pm
owhhh…so thoughtful…