Archive for June, 2006

Kancing Yang Terlepas (Blogdrive: August 11, 2004)

Tuesday, June 20th, 2006

Seperti yang gw tulis sebelumnya, gw mendapatkan "cuci otak" atau wejangan dari Bokap sejak gw masih kecil sampe sekarang. Pada saat gw merasa menjadi seseorang yang diabaikan di pergaulan sekolah. Gw merasa kesepian dan kosong. Pada saat mengadu ke ortu, Bokap bilang: "Miko, hidup kita adalah secarik kain putih kosong. Banyak sekali cat pewarna di sekeliling kamu. Kamu harus bisa membuatnya menjadi berwarna. Hanya kamu sendiri yang bisa membuat warna-warni itu tampak harmonis atau justru menjadi carut marut." Pesan yang amat berat untuk kemampuan berpikir abstract seorang abege. Gw sekarang tumbuh menjadi orang yang cenderung pemilih dalam menjalin sebuah hubungan.

Ketika gw punya seorang sahabat baik dan ada ketergantungan secara emosional, gw kudu berpisah dengan dia. Gw sedih dan sangat kehilangan, dan sekali lagi Bokap mengingatkan gw: "Miko, jangan pernah sekalipun kamu tergantung pada seseorang. Apapun itu bentuknya. Pada dasarnya kita hidup sendirian. Kita hidup hanya untuk diri kita sendiri. Kehadiran orang lain adalah pelengkap semata. Ibarat pakaian dengan bebagai macam aksesori dan kancing, suatu saat kancing itu akan copot dan hilang karena memang sudah satnya untuk kancing itu terlepas. Ada saatnya pula suatu aksesoris itu justru membuat pakaian menjadi tampak norak dan tidak pantas dikenakan, kamu bisa melepaskan aksesoris tanpa menjadi kehilangan rasa percaya diri." Nasehat Bokap membuat gw bisa merelakan kepergian sahabat gw. Gw tumbuh menjadi individu yang solitaire dan terkesan acuh dalam sebuah hubungan

Gw masih ingat juga waktu SMA ketika gw terkena masalah besar dan sangat memalukan hingga gw committed to suicide (yang syukurnya gagal), kembali lagi Bokap memberi wejangan: "Miko, kamu harus berani menghadapi dunia dan menunjukkannya bahwa kamu adalah orang yang berani. Kalau tidak, kamu hanya akan menjadi bulan-bulanan serigala-serigala di luar sana. Apapun kamu. Sejelek-jeleknya kamu, kamu tetap darah daging Bapak. Kamu tetap anak Bapak. Dan Bapak bangga karena kamu menjadi anak Bapak."  Wejangan yang gw pegang dengan kuat di hati gw. Gw tumbuh menjadi seseorang yang membungkus diri yang rapuh dengan kemasan sekuat baja dan menjaga self-image agar dapat tetap membuat ortu gw bangga terhadap gw.

Terlepas dari semua wejangan-wejangan Bokap yang sekarang membentuk pribadi gw, saat ini gw  menghadapi waktu yang sulit dan situasi yang tidak dapat diprediksikan. Dalam waktu dekat gw harus siap untuk melepaskan seseorang yang sangat berarti dalam hidup gw. Ketidakrelaan, ketakutan, kepedihan, dan semua perasaan bercampur baur. Tapi itu adalah kenyataan yang harus gw terima. Sepahit apapun.

Sebuah kancing siap untuk terlepas………………

JAKARTA = BIG PINEAPPLE (Blogdrive: August 3, 2004)

Tuesday, June 20th, 2006

New York punya julukan big apple. Kalo Jakarta mungkin lebih cocok dijuluki big pineapple. Wangi n mengundang selera. Tapi kalo kita gak hati-hati untuk mencicipi sedapnya nanas raksasa ini, bisa-bisa ketusuk durinya or gatal tenggorokan. Terkesan manis tapi sering kali si nanas raksasa  justru punya rasa asem yang memecut mulut hingga bibir manyun mengerucut.

Gw tergolong new comer di Jakarta ini. Meskipun dulu sempat bersumpah gak bakalan mau tinggal dan kerja di Jakarta, akhirnya gw kudu menjilat air ludah gw sendiri. Kenyataan bahwa lebih dari 70% peredaran uang berada di Jakarta, memikat gw untuk meninggalkan nikmatnya kesederhanaan kota Jogja. Menjaring kepeng-kepeng untuk bertahan dalam hidup (tentunya dengan standar yang jauh lebih tinggi dari sekedar makan malam di angkringan).

Gw masih ingat, di awal 2003 di Jogja, dengan uang 5000 perak gw bisa makan kenyang. 3 kali sehari! CATAT: 3 KALI SEHARI. Nominal yang ngepas banget untuk bisa makan seadanya plus aer haus di warteg pinggiran got Jakarta untuk sekali makan. CATAT: SEKALI MAKAN. Selama di Jogja gw gak terlalu peduli dengan segala macam asesori penunjang penampilan yang representative. Sekarang mau gak mau gw kudu rela belanja ini itu untuk menjaga penampilan fisik yang representative karena tuntutan kerjaan gw. Dulu gw masih bisa jalan-jalan di mal dengan sendal jepit n jeans lusuh. Sekarang gw pasti bakal dikuntit satpam mal kalo masih nekat berpenampilan seperti itu n dikirain tukang kutil barang.

Setuju atau tidak, film Arisan! betul-betul potret yang ngejepret komedi kehidupan Jakarta dengan pas. Pertemanan palsu, hedonisme, dan segambreng topeng yang kudu siap dipake setiap saat dibutuhkan. Untungnya saat ini gw punya teman-teman baik yang baik dalam arti sebenarnya (jauh dari gambaran pertemanan ala film Arisan! Walau kadang-kadang kita suka juga ngumpul di fancy restaurant/cafe ala ibu-ibu arisan. hehehehehe). Gw punya tempat untuk berbagi suka dan duka.

Tapi apakah dibenarkan jika kita bergantung pada teman? Sekalipun kepada teman baik? Bokap selalu mengajarkan ke bahwa pada dasarnya kita hidup di dunia ini adalah sendirian.  Orang lain hanyalah sebuah aksesori yang memberi warna dan nuansa. Suatu saat aksesori itu akan lenyap karena hilang maupun ditanggalkan. Kejam? Mungkin itu kesan awal yang tertangkap, tapi gw udah bisa mengerti dan paham banget bahwa apa yang diajarkan Bokap, benar adanya.

Secara nominal, apa yang gw dapat saat ini, Alhamdulillah, cukup besar dibandingkan apa yang gw dapat sebelumnya di daerah. Tanpa bermaksud kufur, gw juga merasa bahwa tuntutan dan kebutuhan gw bertambah besar. Gw kudu rela menghabiskan lebih dari 60 jam seminggu untuk pekerjaan. Gw menjadi lebih solitaire dan individualis di kota Jakarta. Sisi manusiawi gw kadang menjerit dan minta pertanggungjawaban mengenai apa yang sebenarnya gw cari. Memang sih…segala sesuatu pasti ada yang harus dikorbankan. Tapi apakah pengorbanan ini cukup berarti demi sekepeng dua kepeng? Apakah Jakarta cuma sebagai tempat untuk melarikan diri dari tanggung jawab yang sebenarnya menungu di kampung? Gw gak tau. Atau tepatnya, belom tau jawabannya.

Mungkin gw kudu bertanya pada rumput-rumput yang bergoyang…..

Laksamana Raja Di Laut (Blogdrive: June 27, 2004)

Tuesday, June 20th, 2006

Kemaren gw ketemuan ama temen-temen lama di Plaza Indonesia sesudah meeting panjang dengan boss. Selama ngobrol ngalor ngidul sambil makan di Chopstix, AFI alias Akademi Fantasi Indosiar jadi salah satu topik pembicaraan. Topik yang sepertinya gak bakal habis diomongin. Mulai dari akademia-nya, komentar-komentar dari "juri", penonton, sampe lagu-lagu yang dinyanyikan. Ngobrol sana ngobrol sini akhirnya ketahuan kalo kita bertiga jadi suka lagu Laksamana Raja Di Laut-nya Iyeth Bustami gara-gara dinyanyiin Tia AFI. Heuheuheuheu. Salah satu temen gw, Ida, ternyata punya kasetnya. Waktu gw mo pinjem, dengan juteknya dia bilang: "Sorry, itu lagu kebangsaan gw." Gondok banget gw. Karena panas ati, gw jadi pengen beli kasetnya. Sebenarnya di Plaza Indonesia ada toko kaset, cuma……tengsin!!!

Tengsin??? Kenapa harus tengsin? The angel side of me bilang begitu ke gw. Iya sih….kalo dipikir-pikir ngapain juga malu. Lagu melayu or dangdut gak  kalah ama jenis lagu yang lain. Tingkat kesulitan untuk menyanyikan lagu melayu bisa dibilang tinggi. Cengkok, pengaturan nafas dan lain sebagainya. Penyanyi dangdut pasti bisa untuk nyanyi lagu pop atau rock. Tapi penyanyi pop atau rock belom tentu bisa nyanyi lagu dangdut/melayu. SEE!!!

Emang sih…. penyanyi lagu melayu or dangdut sering banget berpenampilan "ajaib". Mungkin pengertian dari kata "ajaib" ini berlaku cuma untuk sebagian dari kita. Tapi buat sebagian yang lain, hal itu adalah sesuatu yang "keren". Dan vice versa pastinya. Apa yang sebagian dari kita bilang "keren", bagi sebagian yang lain mungikin akan menilainya sebagai "ajaib". Insight baru (walaupun ini mestinya udah disadari dari dulu) buat gw bahwa segala sesuatu adalah relatif. Tidak ada yang mutlak atau absolut. Mungkin apa yang gw bilang ini benar. Mungkin juga salah. Jadi….teuteup relatif…..

Malam ini gw kepaksa ngendon di kost gara-gara masuk angin. Sambil menikmati malam minggu di kamar, gw mainkan kasetnya si Iyeth, sementara di kamar sebelah pasang lagu Techno. Gw cuek aja. What’s wrong with dangdut? Bergoyanglah bahu n pinggul gw…

Zapin…..daku dendangkan…..lagu melayu…….

Cabe Rawit (Blogdrive: June 25, 2004)

Tuesday, June 20th, 2006

Banyak orang yang mnganalogikan cinta dengan hal lain. Ada yang bilang cinta itu ibarat kupu-kupu. Ada juga yang bilang cinta itu seperti musim semi. Kalo gw bilang, cinta itu seperti cabe rawit (ini adalah pemahaman gue tentang cinta beberapa bulan yang lalu…waktu gw lagi gundah gulana kata si yuk Nah).

Cinta itu seperti cabe rawit, yang bikin makanan jadi makin nikmat dikunyah dan pengen nambah . Tapi ada kalanya juga gara-gara cabe rawit, perut kita jadi mules dan berak-berak. Akibatnya, untuk sementara waktu kapok makan cabe rawit.

Seperti halnya dengan gw yang pengen merasakan cinta. Cinta yang putih. Terlalu tinggikah harapan gw? Pernah ada seorang sahabat bilang ke gw: "Bangun, bego! Jangan pernah jadi pungguk yang merindukan bulan. Hari gini mengharapkan cinta putih. Di Jakarta pula. Orang-orang hanya ingin bersukaria, dan di saat lo mabuk olehnya dia akan meninggalkan kamu untuk menangis darah sambil menggaruk-garuk aspal!!

Najis!!!! Begitu rendahnya kah nilai dari sebuah cinta?? Cinta yang tidak lebih dari sekedar perkelaminan belaka.

Ada pula seorang sahabat berkata: " Gw gak butuh cinta. Gw udah biasa untuk hidup sendiri dan berteman sepi. Dan gw lebih nyaman karenanya."
Sebuah ego defense yang bagus. Tapi dalam hati gw bilang: "Kasian deh lo!"
Gw ngerti dan sadar seratus persen bahwa hidup ini penuh dengan pilihan. Gw juga tahu bahwa setiap orang berhak untuk memilih yang terbaik buat hidupnya karena cuma dia yang tahu tentang hidupnya. Oleh karena itu gw akan memilih bentuk cinta yang gw mau.

cabe rawit…..oh…..cabe rawit……….mules deh gw……….

Obral…obral….obral (Blogdrive: June 24, 2004)

Tuesday, June 20th, 2006
Hari ini gw interview 2 kandidat yang baru aja lulus n belom diwisuda alias fresh graduate yang bener-bener ijo. Lulusan institut swasta yang lumayan bagus tapi IP n Bahasa Inggris-nya pas-pasan. Begitu ngedenger salary expectation-nya, alamak……Angka yang layak diajukan oleh seseorang yang sudah berpengalaman kerja 5 tahun di perusahaan besar. Gw shock dengan kepolosan mereka (atau arogansi mahasiswa yang baru menetas dari universitas?). Kalo dipikir-pikir, sebenarnya sah-sah aja mereka punya ekspektasi yang tinggi. Cuma……ngaca dulu dong……apa sih competitive advantage yang dimiliki koq sampe nekat set harga tinggi. Udah gitu berprinsip lebih baik gak kerja daripada kerja tapi bayaran kecil. Helloooo……Di Indonesia, angka pengangguran terbuka dah cukup bikin hati miris. Padahal…kalo kita inget ama hukum permintaan: semakin banyak supply dan semakin sedikit permintaan, harga bisa drop banget.
Anyway, silahkan aja sih pasang harga tinggi, tapi enam bulan lagi pasti udah
obral…..obral…..obral

Pesemistik atau Re-press Anxiety (Blogdrive: June 23, 2004)

Tuesday, June 20th, 2006

Beberapa kali gw mimpi buruk or gak menyenangkan. Biasanya mimpi-mimpi itu mengenai seseorang yang dekat dengan gw atau tentang gw sendiri (ya iyalah…..masa’ mau mimpiin orang yang gak gw kenal). Dari sekian banyaknya mimpi buruk itu, yang terjadi di dunia nyata justru kebalilkan dari mimpi gw.

Yang bisa gw simpulkan dari hal ini adalah mimpi buruk itu adalah kecemasan-kecemasan atau rasa takut yang di-repress oleh alam bawah sadar gw. Tapi ada satu pertanyaan lagi yang muncul di benak gw. Apakah mimpi-mimpi ini merupakan refleksi karakter gw? Karakter manusia yang pesimistik. Ouch….. gw seperti digampar pake bakiak kalo ternyata gw orangnya pesimistik.

Emang sih, gw bukan orang yang terlalu berani mengambil resiko alias lebih baik menghindari konflik frontal. Sangat bertolak belakang (atau justru berhubungan???) dengan karakter gw yang lain: perfeksionis dan ambisius.

Bicara tentang pesimis dan optimis, gw optimis kalo sales achievement bulan ini bisa nutup sales target gw sampe bulan depan. Tapi gw pesimis bisa berhenti ngerokok. Gw menjadi lebih relaks sewaktu gw lagi tegang ngurusin kerjaan trus gw curi waktu 5 menit buat ngerokok. Sebenarnya yang bikin relaks itu rokoknya atau curi break 5 menitnya?

Banci Tampil

Tuesday, June 20th, 2006

Butterfly_with_moustache Gak tau kenapa gw pengen mindahin tulisan-tulisan yang pernah gw upload di blogdrive ke blog friendster. Apakah karena gw merasa lebih enak punya satu blog yang bisa gw upload sembari browsing friendster? Atau karena waktu gw bandingin tulisan di blogdrive dengan yang gw uplolad di friendster ternyata….kualitas tulisan gw menurun (secara beberapa minggu lalu novel gw dikomentarin membosankan  ama Mr. X, si penulis kondang, yang ujung-ujungnya menolak untuk jadi editor novel gw)? Atau karena apa?

Mungkin karena lebih praktis. Mungkin supaya gw bisa upload tulisan yang "lebih bagus" lagi karena ada tulisan pembanding yang setiap saat bisa gw lihat. Mungkin juga karena gw pengen pamerin tulisan yang pernah gw tulis sebelumnya.

Huh! Dasar banci tampil!!!

‘Til I’ll See You Again

Friday, June 16th, 2006

Time has come, what’s done is done

It’s time to move on…

To another place, to another space

Maybe circling some other sun

Don’t ask why, don’t ask how

Still can’t explain

Just say goodbye, goodbye for now

‘Til I’ll see you again

In the sunlight, that’s where I’ll be

In the moonlight, close your eyes, you’ll see me

In the sunlight, in the twilight

I’ll be the morning and the evening star

I’ll be with you, wherever you are

Life is strange, such joy and pain

With the betrayal of a kiss

It may be meant to be, maybe destiny

That’s leads us down a path like this…

Drawning

Friday, June 16th, 2006

Saat gw tersenyum, bukan berarti hati gw tidak menangis

Saat gw tampak tegar, bukan berarti diri ini tidak menjadi serpihan

Saat gw menutup hati, bukan berarti jiwa ini tidak menginginkan dirinya

I know I hold the key but somehow I can’t find it

What I could do just crawling and keep searching

Numb……….

Suddenly, I realized

I am drawning