Surat buat Bapak dan Ibu
Tuhan memang tidak akan pernah memberikan cobaan kepada kita kalau kita tidak sanggup menghadapinya. Satu cobaan dapat dihadapi dengan kepala tegak, cobaan lain yang lebih berat diberikan. Akankah kepala tersebut akan tetap terus tegak? Tetapi ketika kepala mulai lelah dan lunglai, akankah cobaan itu berakhir?
Ketika gw baru saja berdamai dengan hati gw sendiri, gw menghadapi masalah yang begitu besar. Semua impian dan rencana yang dibuat hancur sudah. Gw merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia karena gw gak mempersiapkan rencana yang lain. Gw gak pernah setakut ini. But show must go on. Tidak ada waktu untuk menyesali bahkan menangisi. Yang harus gw lakukan adalah mengumpulkan serpihan-serpihan yang tersisa dan tetap bertarung. Ada ataupun tidaknya dukungan, gw harus tetap berjalan dan mempertahankan kepala gw untuk tetap tegak.
Bapak dan Ibu, kalian tidaklah salah namun tidak semuanya benar. Saya tahu bahwa kalian menginginkan yang terbaik untuk saya. Kalian hanya ingin menjaga agar saya tidak terluka pada saat jatuh. Namun, bagaimana saya dapat berdiri di atas kaki saya sendiri dan mampu berjalan apabila saya selalu dipegangi dan dituntun? Saya tahu bahwa saya mengambil keputusan terlalu cepat, dan maafkan saya untuk itu. Saya hanya mengharapkan doa dan restu dari kalian. Tidak ada yang lain. Cepat atau lambat, saya buktikan bahwa saya pun benar dan tetap menjadi kebanggaan kalian.
February 26th, 2006 at 6:40 am
Miko, blog kamu selalu menarik untuk dibaca, karena tertulis kejujuran dan perasaan kamu yg sebenarnya.
Bagaimanapun juga, kita sendiri yang memutuskan jalan hidup kita. Orang tua, teman, sahabat, mantan pacar, dan pacar sekalipun cuma orang orang di sekitar kita yg memberi masukan dan nasehat. Aku pernah baca satu tulisan ttg hidup dan remote control. Jangan hidup kita diatur oleh orang lain. Jangan sampai orang lain memegang remote control hidup kita. Kalau orang lain membuat kita kesal, kita tidak boleh terlarut dalam kesedihan, juga atau bila orang lain membuat kita senang, kita terlarut dalam kesenangan semu. Kita sudah harus berani mengambil remote control itu dari orang lain, dan memegang remote itu sendiri. Kita sendiri yang menentukan kapan kita senang, kapan kita sedih. Bukan orang lain.
Saat ini, remote gw sedang dipegang oleh orang lain juga, dan gw sedang berusaha merebutnya kembali. Walau itu sulit. Tapi gw yakin, gw bisa.
Hope to see u in person, Miko.
February 26th, 2006 at 8:07 pm
Ngga ada cobaan yang diberikan oleh Yang Kuasa ke atas kita tanpa diberikan oleh-Nya kemampuan untuk menghadapi, mengatasi dan melewati cobaan tersebut. Amin for Miko.
March 4th, 2006 at 10:05 pm
That’s what ortu are for. Tell you what’s right and wrong. Once you reach the average of adult, it’s your time to make your own decision. Paling all they can say,”Aduh nak….udah gede kok masih kayak gini sih?” Hehehehe…………..