Mulut Yang Diare

Mulut kita adalah harimau kita. Segala sesuatu yang terucapkan dari mulut bisa berbalik menyerang diri kita sendiri.

Mungkin mulut bisa disamakan dengan anus. Ketika perasaan terserang virus kekecewaan, bagai perut yang terserang amuba, meluncurlah semua. Tidak terkontrol. Layaknya anus yang tidak dapat menahan mencret!

Untuk kesekian kalinya gw gak bisa menutup mulut. Berkoar-koar. Berkaok-kaok. Macam burung gagak yang menganggap dirinya adalah burung kutilang bersuara merdu. Apakah hanya sekedar mencari sebuah pengakuan dari orang lain? Ataukah perwujudan dari kegilaan sesaat karena kemarahan yang terpendam?

Sekarang gw kudu siap untuk menerima cemoohan atas mencret yang gak bisa gw tahan. Big mouth! Tong kosong nyaring bunyinya! Air beriak tanda tak dalam!

Iya deh….gw terima….

Rasain!

2 Responses to “Mulut Yang Diare”

  1. coen Says:

    Belajar (dari keseharian) adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan tanpa guru, tanpa perlu ke sekolah, tapi mungkin ada rotan atau penggaris kayu yang siap menghukum kita.
    Mari belajar bersama.

  2. Rani Says:

    Anggep saja you were lepas kendali. Planet Earth calling Miko: ground control to Miko. Gak apa-apa kok mas, asal gak keseringan :)

Leave a Reply