Prolog:
Tiba-tiba seekor lalat terbang dan masuk ke dalam cangkirku yang berisi kopi. Menggelepar sesaat dan akhirnya diam. Tak bergerak. Mungkin sudah berakhir kehidupan seekor lalat. ‘Mbok!!!!! ke sini dong…kopiku kemasukan lalat nih, tolong buatin yang lain ya…’ kataku ‘Iya, den, Mbok buat yang baru ya.’ Kata simbok, pembantuku itu…..dan aku melanjutkan membaca koran seperti tidak ada kejadian apa-apa.
******************************************************************
Nama aku Mas. Aku tidak tahu nama asliku, cukuplah kalian memanggil aku Dul saja seperti kebanyakan orang Indonesia yang ada. Biasa kan, kita sering dengan: ‘Si Mas itu kurang ajar banget..tiba-tiba menyalip ke depan mobil aku, kena lampu merah deh…’ atau ‘hari itu ban mobil aku kempes di jalan tol, untung ada Mas-mas itu, kalau nggak, nggak tau deh mesti gimana.. Nama atau istilah Mas sudah melekat dalam kehidupan kalian sehari-hari. Aku ? Aku adalah seekor lalat dari spesies Musca Domestica atau Lalat Rumah dari keluarga Diptera, yaitu serangga yang mempunyai dua sayap. Aku adalah satu dari 1.5 juta spesis lalat yang berterbangan di seluruh dunia. Aku berusia 8 hari dan pada usia hari aku sudah menjadi dewasa. Aku sudah menamatkan sekolah dasar dalam waktu 3 hari, sekolah menengah pertama dalam waktu 1.5 hari dan melanjutkan di SMA dalam waktu 1.5 hari.
Kemarin aku baru saja diwisuda dan mendapatkan gelar Sarjana Makanan dan Sampah dari Universitas Lalat. Tidak seperti Mas Parjo yang mendapatkan ijazah dengan mudahnya di pinggir tong sampah. Tadi malam, waktu aku terbang ke sana kemari mencari sesuap makanan, aku mampir sebentar di sebuah gang sempit di belakang sebuah bangunan. Aku melihat seorang perempuan yang cantik. Modis dan seksi. Aku hinggap sebentar di atas bahunya sebab aku hendak mengamati kalau ada sisa-sisa makanan yang ada sekitar sekitar tanah yang dipijaknya itu. Sialnya, aku dihalau oleh kibasan tangannya sambil mulutnya melemparkan makian.
‘Lalat sialan!’ makinya.
Aku dihina sedemikian rupa seolah-olah aku adalah seekor binatang yang berbahaya. Aku bukan binatang, aku adalah serangga. Walau aku dituding sebagai pembawa penyakit dan virus yang berbahaya seperti temanku, Nyamuk, paling tidak aku lebih baik dibandingkan dia. Tak berapa lama aku melihat dia digandeng seorang lelaki dan masuk ke dalam kamar yang kecil di belakang bangunan.
Ternyata……Sekotor-kotornya aku, kamu lebih kotor, lebih sial, lebih bangsat.
Aku meninggalkan daerah kotor itu sambil memaki-maki biarpun dalam hati. Aku terbang lagi dan melanjutkan pengembaraanku di atas bumi milik Tuhan ini. Aku hanya ingin mencari rezeki dari rezeki yang kamu buang dan kamu lemparkan ke dalam tong sampah. Hinakah aku? Rezeki yang Tuhan berikan, kamu sia-siakan dan kamu berikan padaku. Siapa yang lebih hina? Aku tak pernah sia-siakan sisa-sisa rezekimu. Kalau jumlahnya banyak, aku panggil teman-temanku. Kami berkenduri dan berpesta di situ. Satu hal lagi, setidaknya aku membersihkan tanganku lebih dulu sebelum menjamah makananmu. Tidak seperti kebanyakan dari kalian yang langsung makan tanpa membersihkan atau mencuci tangan.
Pada saat pagi menjelang, aku terbang lagi. Itu adalah pekerjaanku dan itulah kehidupaku. Aku singgah sebentar di sebuah tong sampah di belakang sebuah rumah. Indra peraba pada kaki-kakiku memberitahu sesuatu. Ada banyak makanan di situ. Ada yang masih sangat baik dan pantas untuk kalian makan. Tetapi ini sudah menjadi rezeki aku. Sambil makan, aku melihat selembar koran. Aku membacanya dengan mata yang kabur karena aku mempunyai mata faset yang mampu memberitahuku adanya sebuah gerakan. Sekecil apapun gerakan itu. Oh ya, aku sudah pandai membaca waktu aku berusia aku satu hari, pada saat aku masil menimba ilmu di sekolah dasar negeri lalat. Isi beritanya membuatku muak. Berita tentang wakil rakyat yang selalu ribut dan berkelahi pada saat sidang, berita pemerkosaan, pembunuhan, kerusuhan dan lain sebagainya.
Selera makanku hilang. Di dalam bangsaku tidak pernah ada berita-berita seperti itu. Apa yang biasa aku dengar hanyalah berita kematian lalat yang ditampar dengan sadisnya oleh manusia, kematian lalat yang disembur dengan Baygon atau Raid, kematian lalat karena sakit tua, kematian lalat akibat terkena sengatan listrik pada jebakan ultra violet untuk serangga. Berita-berita yang memuakkan itu membuatku segera terbang meninggalkan tempat itu. Aku sudah kehilangan selera makan. Kalian memang membuatku muak. Sehina-hinanya bangsaku, bangsa kalian lebih hina.
Sambil terbang, banyak hal yang kupikirkan. Kenapa aku dituduh dengan bermacam-macam hal yang jelek? Aku tidak pernah berak di badan kalian tapi kenapa titik-titik hitam ciptaan Tuhan itu dikatakan sebagai tahi aku? Ironisnya, bila tahi aku berada di sudut bibir kalian, itu dikatakan sebagai pemanis? Kenapa aku dijadikan perumpamaan seperti lalat hijau mengerumuni bangkai? Padahal, tahi dan putaran kehidupanku pada bangkai menjadi petunjuk penting bagi para Pathologist untuk memperkirakan usia kematian kalian. Begitulah buruk dan hinanya aku pada mata kalian. Kadang-kadang aku pun ingin menjadi seperti burung. Terbang tinggi menembus awan. Tapi aku tetap bersyukur dengan anugerah Tuhan. Dengan sayap-sayap ini aku belajar arti kehidupan kalian. Walau aku cuma mampu hidup selama 40 hari. Jka aku beruntung, umurku bisa lebih dari 40 hari dan paling lama aku hidup hingga 100 hari. Itu adalah nasibku yang mungkin kalian tidak pernah tahu. Aku hanya mampu berdoa agar aku mampu hidup sampai 100 hari dan aku dapat menghindari kawasan-kawasan berisiko tinggi. Tidak seperti kalian, yang menjemput ajal sendiri di atas jalan raya dengan memacu sepeda motor atau mobil seperti seorang pembalap. Menyuntikkan racun ke dalam tubuh sendiri. Menghisap asap beracun berbahaya.
Sedihnya, aku masih dianggap hina dan bodoh.
Matahari semakin tinggi dan hawa menjadi semakin panas. Aku perlu mencari tempat yang nyaman untuk aku menenangkan pikiran. Bukan tempat yang terlalu dingin dan beku karena di tempat seperti itu aku bisa pingsan selama berpuluh-puluh hari. Tapi aku bisa cepat siuman jika aku dihangatkan walapun itu hanya hembusan nafas kalian. Aku melihat sebuah tempat yang berhawa sejuk, sebuah ruangan yang bagus. Aku masuk dengan menumpang pada seseorang yang membuka pintu. Aku terbang dengan gembira sebab tubuhku menjadi lebih nyaman terkena hembusan AC. Aku melihat sebuah komputer dan seseorang sedang melihatnya dengan penuh konsentrasi. Aku hinggap sebentar di atas kursinya. Dia tidak sadar bahwa aku ada dibelakangnya. Dia terlalu asyik. Aku mencoba membaca apa yang tertera pada layar monitor. ‘Ah !, sebuah artikel dengan judul Life Is A Fairytale…sebuah tulisan tentang seekor lalat. Ada apa gerangan dia membaca cerita mengenai lalat? Tak ada pekerjaankah dia? Apakah atasannya tahu atau tidak bahwa dia sedang berpura-pura bekerja? Apa dia tak sadar bahwa pemilik perusahaan membayar gajinya untuk bekerja dan bukannya membaca sebuah cerita tentang entah apa..’ bisik hati kecilku. Dasar manusia. Aku terbang meninggalkan dia yang masih sibuk membaca cerita tentang seekor lalat. Mungkin dia ingin tahu ending cerita mengenai si lalat.
Sangat menarikkah cerita seekor lalat?
Entahlah……..yang pasti aku masih dianggap kotor, menjijikan, dan bodoh.
*********************************************************************
Lalat itu mati di dalam segelas kopi pada usia 10 hari. Dia tidak sempat menatap terbitnya fajar yang ke 100. Mungkin itu sudah takdirnya. Kalau dia hidup hingga 100 hari, mungkin dia bisa menjadi presiden lalat. Dan dengan daya fikirnya yang tinggi, dia mungkin mampu mengumpulkan lalat-lalat seluruh dunia dan menyerang manusia.